Senin, 10 Agustus 2009
MENGENALI GERAKAN PENDISRKEDITAN
Ideological discredited movement adalah gerakan pendiskreditan ideologi atau ajaran tertentu. Gerakan pendiskreditan ini memiiki ciri yang sangat khas. Yaitu adanya pelarangan penyebaran agama atau aliran ideologi tertentu. Seperti pelarangan adanya komunisme di Indonesia atau wacana pelarangan Islam di Belanda oleh Geert Wilders. Gerakan pendiskreditan ideologi adala gerakan pendiskreditan yang paing berbahaya. Karena dapat menimbulkan adanya konfik antar agama dan kepercayaan. Contoh pendiskreditan ideologi adalah pengusiran umat Islam dan Arab dari Spanyol pada abad ke-13.
Social discredited movement adalah gerakan pendiskreditan terhadap suatu kaum atau etnik yang berupa pengucilan atau pengusiran. Termasuk dalam social discredited movement adalah pengusiran paksa umat Islam dari Spanyol pada abad ke-13 dan pengusiran bangsa Arab dari Palestina pada tahun 1948. Gerakan ini menempati urutan kedua dalam daftar geakan pendiskreditan. Gerakan seperti ini biasanya terjadi antara suatu suku dengan suku ain. Seperti yang dilakukan oleh suku Sinhala terhadap suku Tamil di Sri Langka. Konflik etnik biasanya dipicu oleh adanya gerakan ini.
Political discredited movement adalah gerakan yang mendiskreditkan sekelompok orang dalam lapangan politik. Contohnya adalah kewajiban masuk agama tertentu untuk mendapatkan suatu jabatan. Contoh gerakan ini banyak terjadi di negara-negara Amerika Latin dan di Lebanon. Kewajiban seorang presiden harus beragama Katolik Maronit dan perdana mentee harus Islam Sunni, adalah pendiskeditan dalam konteks politik. Di Argentina hal itu juga terjadi. Dimana presiden harus beragama Katolik Roma.
Economical discredited movement adalah gerakan pendiskreditan melalui jalur ekonomi. Termasuk menganggap bawa suku tertentu dapat diperjua belikan seperti barang dagangan. Embargo ekonomi juga termasuk dalam gerakan ini. Diantaranya adalah larangan terhadap kelompok tertentu untuk berdagang dan berusaha seperti kelompok lainnya.
Dalam menghadapi gerakan pendiskreditan ini, kita harus jeli dan dapat mengenali pendiskreditan apa yang sedang terjadi terhadap siapa dan apakah itu suatu mix dari discredited movement atau bukan. Biasanya mix discredited movement terjadi apabila suatu kaum yang didiskeditkan itu salah mengambil langkah dalam mengadapi geakan pendiskreditan atas dirinya. Jika terjadi kesalahan dalam menghadapi suatu discredited movement, maka biasanya dampaknya akan meluas. Diantaranya menjadi suatu mix yang tidak mudah dihilangkan.
Suatu mix gerakan pendiskreditan, teah terjadi teradap umat Islam di bebeapa negara. Diantaranya Amerika Serikat dan beberapa negara Kristen atau negara dengan penduduk mayoritas agnostik. Di negara-negara seperti itulah dan dari kaum-kaum non agama, biasanya timbul gerakan pendiskreditan. Gerakan pendiskeditan yang timbul bisa berupa pendiskreditan ideologi, sosial, politik, maupun ekonomi. Bakan bisa saja semuanya. Termasuk dalam mix geakan pendiskeditan adalah adanya wacana pencabutan hak kewarganegaraan suatu kelompok masyarakat di sebuah negara. Wacana pencabutan hak dapat menjadi suatu pendiskreditan sosial, politik dan ekonomi, yang berjalan bersamaan.
Sebenarnya terdapat suatu jurus yang manjur dalam mengadapi gerakan pendiskreditan yang baru muncul. Misalnya dengan member pengertian kepada kelompok yang memulai pendiskreditan terhadap diri kita. Atau juga dengan melakukan perlawanan yang sehat, jika gerakan pendiskreditan itu dimulai oleh pemerintah. Atau sudah pasti akan dilakukan. Namun dalam dunia modern, dimana hamper semua agama memiiki umat di hampir seluruh negara, serta betapa sulitnya eksekutif mengambil keputusan sepihak, maka kita dapat mencegah gerakan pendiskeditan yang akan muncul.
Di samping itu, pelaksanaan gerilya, melawan wacana pendiskreditan, adalah suatu hal yang tidak begitu sulit belakangan ini. Melihat betapa gerakan pendiskreditan sudah disadari sebagai musuh dunia, maka gerakan pendiskreditan yang ada dapat dengan mudah kita hindari. Diantaranya dengan melaksanakan sosialisasi mengenai siapa kita yang baru datang ke suatu wilayah tertentu. Sosialisasi yang bisa juga menjadi suatu gerakan misi ini sekiranya harus dilaksanakan oleh segenap unsur dalam komunitas yang ada.
Kamis, 11 Juni 2009
Terorisme dalam Sebuah Sindiran
Terorisme adalah menghadap ke qiblah sambil mengangkat kedua belah tangan
Terorisme adalah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna
Terorisme adalah agama yang dibawa oleh seorang yang membebaskan budak-budak
Terorisme adalah kulit berwarna dan keluar dari agama salib
Terorisme adalah pergi ke Mekah dan thawaf tujuh kali
Terorisme adalah berpuasa dan mengeluarkan zakat setiap tahun
Terorisme adalah Arab dan Asia umumnya
Kamis, 14 Mei 2009
KERINDUAN AKAN DEWAN MAHASISWA
Sejenak kita akan berpikir bahwa tulisan ini menghantarkan kita pada sebuah kemunduran. Akan tetapi penulis ingin untuk memberitahukan kepada pembaca sekalian, bahwa bentuk lembaga kemahasiswaan yang terbaik dan paling demokratis adalah Dewan Mahasiswa. Kenapa harus Dewan Mahasiswa? Kenapa tidak Pemerintahan Mahasiswa, yang berjalan sekarang ini atau Senat Mahasiswa yang berjalan di era Orde Soeharto? Jawabannya adalah karena Dewan Mahasiswa memiliki kedudukan sama dengan rektorat, dekanat dan jurusan. Bentuk Dewan Mahasiswa nampak lebih kuno. Akan tetapi memperlihatkan kedaulatan mahasiswa, lebih dari sekarang ini.
Pelajaran berdemokrasi dan berbangsa, bagaimanapun dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Akan tetapi tidak semua cara itu benar. Jika melihat kepada bentuk Senat Mahasiswa, kita akan terbayang kepada NKK/BKK dan Orde Soeharto yang tidak demokratis. Kita akan terbayang kepada masa kediktatoran Soeharto yang sangat tidak manusiawi. Kita akan membayangkan bagaimana rektorat, dekanat dan jurusan akan memerintah secara ex officio. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan gerakan mahasiswa dalam masa-masa seperti itu. Sedangkan bentuk Pemerintahan Mahasiswa akan membuat kita terbuai dengan demokrasi yang setiap saat bisa menjadi anarki. Kita akan terbuai dengan sebuah sistem ketatanegaraan yang sebenarnya bisa terjadi dalam bentuk Dewan Mahasiswa dan Parlemen Mahasiswa. Kita akan merasa bahwa inilah bentuk demokrasi dalam kampus yang sebenarnya. Sedangkan dalam sistem Dewan Mahasiswa, kita akan memiliki sebuah lembaga kemahasiswaan yang setara dengan rektorat—di tingkat universitas atau institut, dekanat—di tingkat fakultas—dan jurusan. Presiden Mahasiswa akan setara dengan rektor, dekan dan ketua jurusannya. Sehingga tidak bertanggungjawab kepada rektor, dekan atau ketua jurusan.
Bentuk lembaga kemahasiswaan, Dewan Mahasiswa, tidak mengenal garis koordinasi atau komando, antara pihak akademik, dengan mahasiswa. Bentuk ini memiliki garis komando antara—apa yang disebut—Senat Lembaga Pendidikan Tinggi, dengan pihak akademik dan lembaga kemahasiswaan. UKM, Dewan Mahasiswa, Parlemen Mahasiswa dan pihak akademik akan berada sejajar dan tidak saling komando. Pihak akademik tidak akan membuat keputusan yang berkenaan dengan lembaga kemahasiswaan. Rektor, dekan dan ketua jurusan akan berada sejajar dengan Dewan Mahasiswa dan parlemen Mahasiswa di tingkatannya. Mereka akan bekerjasama, karena garis yang ada, adalah garis kooperatif.
Oleh karena itulah, penulis ingin mengajak kepada semua mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk kembali kepada sistem Dewan Mahasiswa, yang lebih demokratis dan lebih baik, dibanding dengan Pemerintahan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Bentuk pembelajaran berdemokrasi—dalam Dewan Mahasiswa—terletak pada sistem trias politikanya yang—sebetulnya—sama dengan Pemerintahan Mahasiswa sekarang ini. Bentuk lembaga kemahasiswaan, Dewan Mahasiswa, kendati nampak kuno, akan tetapi lebih demokratis dan lebih mencerminkan kedaulatan mahasiswa. Kekuasaan eksekutif dalam system Dewan Mahasiswa, terletak pada Dewan Mahasiswa itu sendiri. Sedangkan Parlemen Mahasiswa menjalankan fungsi legislatif. Dalam hal ini, kita dapat juga membentuk sebuah Mahkamah Mahasiswa—yang telah lama penulis usulkan kepada Pemerintahan Mahasiswa—yang akan memegang kekuasaan eksekutif.
Dalam Dewan Mahasiswa ini, nantinya tetap akan ada Presiden Mahasiswa dan Menteri-Menteri, serta Staf ahlinya. Parlemen Mahasiswa akan terdiri atas Majelis Tinggi—yaitu UKM-UKM—dan Majelis Rendah—yaitu perwakilan Fakultas, yang dipilih melalui pemilihan umum. Kedua majelis dalam Parlemen Mahasiswa, tentunya dipilih oleh mahasiswa dalam bentuk pemilihan umum yang LUBER dan JURDIL. Dalam pemilihan umum juga kita memilih Presiden Mahasiswa Universitas/Institut, Fakultas dan Jurusan. Mahkamah Mahasiswa juga akan berdiri dan menjadi lembaga yudikatif kemahasiswaan. Mahkamah Mahasiswa ini nantinya akan terdiri atas para ahli hukum—tanpa memandang fakultas atau jurusannya—yang dianggap mampu dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Lembaga yudikatif ini akan terdiri atas para hakim agung dan bertugas layaknya sebuah Mahkamah Agung.
MENCARI IBUKOTA NEGARA
Adanya wacana pemindahan ibukota Indonesia-dan mencuatnya wacana tersebut-pada awal Februari tahun ini, membuat beberapa
Dalam sejarahnya, ibukota Republik
PILIHAN BAGI BANGSA KITA
Kita tidak dapat memungkiri bahwa republik kita ini berada pada jalur patahan yang aktif. Kepulauan
Berasarkan fakta tersebut, wacana pemindahan ibukota ada baiknya untuk direalisasikan. Namun kita tentu tidak boleh terburu-buru dalam bertindak. Pertama; Pemindahan ibukota ke pulau lain selain Jawa adalah sangat sulit dan akan memakan biaya yang lebih besar ketimbang jika ibukota masih di Pulau Jawa. Kedua; Pemindahan ibukota ke kota-kota lain di bagian barat Pulau Jawa adalah satu solusi termurah yang dapat kita lakukan. Ketiga; Pembangunan
Dalam konteks menyelesaikan persoalan negeri, adalah satu kebijakan bila kita memakai satu lahan di dekat ibukota, seperti
[1] Berdasarkan pencarian di internet, wacana pemindahan ibukota telah dimulai jauh sebelum banjir besar 2 Februari 2007.
[2] Penulis sengaja menulis nama Sungai Ciliwung sebagai Ciliwung saja. Ini berdasarkan tata bahasa Sunda yang dipakai untuk menamai sungai yang membelah DKI Jakarta tersebut.
Selasa, 12 Mei 2009
MENANGGAPI PENCALONAN BOEDIONO
Hari ini, kita telah mengetahui hasil akhir penyeleksian Cawapres bagi SBY. Dan hasilnya adalah bahwa Boediono terpilih sebagai Cawapres untuk mendampingi SBY dalam Pemilihan Umum Presiden tahun 2009 nanti. Pemilihan Boediono menurut hemat penulis adalah tepat. Karena mengingat begitu banyaknya partai yang mengusung nama Cawapres dari partainya.
Mengenai masalah kekecewaan partai politik peserta koalisi, penulis lebih melihat itu sebagai efek samping yang biasa terjadi. Tidak akan memecah koalisi begitu saja. Koalisi yang sudah dijalin banyak partai bersama Demokrat saya kira bukanlah sebuah keinginan oportunis yang akan merugikan rakyat. Toh ada beberapa keberhasilan dan kemajuan dalam pemerintahan SBY yang didukung oleh Demokrat.
Namun demikian. Kita juga harus mengerti, bagaimana rasanya kalau calon kita ditolak. Jika suatu hari setelah tulisan ini di-post, ada satu atau sekelompok partai yang keluar dari koalisi dan membentuk koalisi baru, itu adalah hal yang wajar dan harus diterima secara wajar pula.
Kendati demikian, penulis juga ingin menghimbau semua partai yang sudah memutuskan untuk mendukung SBY, agar tetap istiqomah di dalam berkoalisi. Tidak mendadak keluar begitu saja dan membentuk poros tandingan yang nantinya akan merusak kekompakan kabinet incumbent.
Senin, 11 Mei 2009
Islam in the View of Netherlands Right Wing
At March, 27th 2008, Geert Wilders-one of head of the Partij Voor Vrijheid (PVV) in Netherlands-propagating a film which the title is Fitna. The film contains about Islamic teaching which (assumed) full of hardness. It showed sentence of the Holy Koran owning payload (what is assumed as) extremism and terrorism. Beside that, the film also show the prayer which (assumed) contain the anathema to group of non Moslem. Of course the film gets about ossifying from group of Islam of Netherlands and the Partij van de Arbeid which own a lot of member which believe in Islam.
In our analysis, that film is circularized as a mean to stop the Islamisation of Netherlands. Proven with the utterance of Wilders-Head of the Partij Voor Vrijheid-which sound “Stop de islamisering van Nederland.” The Utterance proves the dislike of Wilders and his party to Islam. PVV even look after the fund for devolution of Islamic community in Netherlands. This matter is clear representing the evidence of concerning negative attitude and view of PVV to Islam.
Concerning the negative attitude and view, we are as Islamic people shall immediately give the good answer. That is by doing action to prove the wrong view. In this case people of Islam in Netherlands-trough PvdA and mass organizations which there-with the other Islamic people in the entire world have to make the articles depicting Islamic kindliness. Islamic People also shall claim the disbandment of heavy PVV penalization and for Geert Wilders. Reason of the core important is attitude of anti Islamist overspread by Wilders and PVV.
Disbandment of PVV and the devil to pay for Wilders is absolute for people reconciliation belief in Netherlands, Europe and world generally. Therefore, we are from Branch Board of the Association of Muhammadiyah Student of Ciputat, Indonesia, urging Islamic people in all the world, to claim the devil to pay (sanction) for Geert Wilders and PVV. Especial reason for the sanction is because Wilders and PVV have shown the dislike to Islam, as religion and ideology. We also say thank you which is as much as possible to community of Christian in Netherlands and PM Balkenende, what have given the protest to libel propagated by Wilders. Utterance thank you also we submit to group of world society, what have partaken to curse the film circulation.
Demand which ought to fought for-again-is of disbandment of PVV and the devil to pay for Wilders and its coveys. That matter is caused by its, is their dislike to Islam, what step into the Netherlands by peace. That dislike, is out of reason perhaps and have to be immediately straightened. Perhaps by giving sanction to Wilders and his party (PVV).
By: Department of Hikma of Branch Board of the Association of Muhammadiyah Student of Ciputat, Jakarta, Indonesia.